Kamis, 02 Agustus 2012

INI CERITA YG LU PESEN KE GW....

_ Saya ingatkan kalau kisah ini bukan untuk "membela" atau "menyinggung" suatu pihak dalam cerita, melainkan untuk menceritakan "kisah-kasih di SMA" ( kayaknya ada lagunya ya? ).Karena itu saya tegaskan sekali lagi dan bagi pihak yang merasa tersinggung, mohon anggap ini sebagai "kenangan pahit-manis" karena tak ada maksud buruk dalam penulisannya...

_ Ada dua cara dalam menjalani hidup ini. Salah satunya adalah dengan menganggap segala sesuatunya bukanlah keajaiban, dan yang lainnya adalah dengan cara menganggap segala sesuatunya merupakan keajaiban. Memang, segalanya tergantung darimana kau menyikapinya, tapi biar bagaimanapun, hidup ini lebih baik dibawa enaknya, iya kan?

_ Waktu itu sudah pagi, tapi barangkali sudah kesiangan. Anak-anak segera berkumpul di lapangan untuk upacara. Hari ini adalah hari pertama mereka mengenakan seragam putih-abu-abu. Namun, seorang lelaki tiba-tiba datang kelas X.1. Dia bertanya pada seorang gadis bernama Nia, "apakah ini kelas X.1?". Rupanya anak ini belum mengetahui kelasnya. Mungin itu dikarenakan dia tak berangkat waktu pengumuman pembagian kelas. Segera ia melemparkan "tas ularnya" ke kursi guru, karena disana tidak ada tempat yang tersedia untuknya. Dia pun pergi mengikuti upacara.
_ Upacara waktu itu diterangi matahari yang terik,menyebabkan anak-anak mengeluh. Namun, pak Hadi berhasil mengendalikan semuanya. Entah apa saja yang dirasakan oleh para murid waktu itu; haus, panas, pegal, atau mungkin ketidak-adilan melihat para guru yang mengikuti upacara di bawah naungan bayang-bayang kelas.
_ Pidato dari pembina sangat panjang. Lebih panjang dari tissue toilet di hotel-hotel mapan. Dan akhirnya, saat-saat yang ditunggupun tiba.Kata-kata yang sangat ditunggu-tunggu pun terucap. Upacara selesai, pasukan dapat dibubarkan. Tentu saja, secara naluriah pun, anak-anak tanpa dikomando akan langsung menuju kelas.. Itu insting mereka.

_ Di kelas X.1; kelas yang sangat ribut. Ya. Ada dari mereka yang sudah kenal dari SMP, atau yang pernah satu gugus, saling bercakap-cakap. Bagi mereka yang merupakan pindahan gugus lain, ada yang saling berkenalan dan memulai percakapan mereka. Karena pada dasarnya, mereka disatukan disana bukan sebagai gugus-gugus lagi. Mereka sudah 1 kelas di tingkatan yang sama; kelas 1 SMA. Bukan SD, bukan SMP. Dan tentunya, hal-hal barupun akan mereka temukan disana.
_ Seorang guru masuk; namanya Pak Wahid. Dia guru agama. Langsung saja, dia menanyakan apakah kelas ini sudah memiliki Taichou ( KM )?. Dan dengan pemilihan secara demokratis, anak-anak boleh memilih secara bebas dan rahasia siapa yang akan menjadi Taichou mereka. Dipilihlah beberapa kandidat KM. Yang pertama Jamal; orang yang sangat gendut namun imut. Kedua Igi; lelaki cungkring yang berambut landak. Ketiga Deny; sama gendutnya kayak Jamal. Dan beberapa lainnya tak disebutkan disini dikarenakan sang penulis sudah lupa. Kemudian, lelaki-yang-menanyakan-kelas-k
e-si-Nia tadipun ditunjuk untuk menulis nama-nama kandidat beserta jumlah hak pilihnya.Setelah pertarungan politik yang cukup menegangkan, akhirnya hak pilihpun dimenangkan oleh Jamal. Iapun menjadi Taichou, dengan Fukutaichou ( wakil KM ) nya yaitu Deny.

_ Seperti biasanya, para guru melakukan perkenalan. Namun beberapa guru justru menggunakan perkenalan ini untuk suatu "perkenalan". Beberapa guru biasanya juga langsung pada pokok materi pembelajaran. Dengan mudah anak-anak segera akrab dengan mereka yang semula tak dikenal. Lelaki yang kita sebutkan tadipun bernama Taufan. Dia mendapat tempat bertiga bersama Igi dan Jamal. Bahkan ketika ia lupa membawa pulpen, ia meminjam ke Syukron. Tentulah saat-saat perkenalan itu kita pasti merasa canggung. Namun dari "kecanggungan" itu, tentu tidak akan ada yang menyangka bahwa suatu saat akan terjadi banyak hal dalam tahun-tahun pertama mereka di SMA. Dari kisah persahabatan, cinta, persaingan dan beberapa hal yang cenderung kita lihat dalam dunia remaja. Dan hal-hal seperti ini biasanya akan menjadi kisah yang menyenangkan untuk dikenang.

_ Ya, seperti salah satunya ini. Taufan, mantan murid Tsubasa ( secara harafiah dalam b.Jepang berarti "terbang" ).Semenjak SMP ia memliki seorang "dewi" yang belum dimilikinya. Ia bahkan berkelana seorang diri mengelilingi dunia untuk mencari keberadaannya ( ih, lebay banget bahasanya, ya? ). Namun semenjak hari ini ia memutuskan untuk memulai hari-harinya yang baru dengan harapan yang sama. Begitu pula dengan Deny dan Nia. Keduanya yang bahkan saat itu belum saling mengenal, kini perselisihan mereka bahkan sampai keluar SMA. Adapula kisah2 yang lain, tapi satu-satu ya...

_ Pertama adalah Taufan. Dikarenakan pula absennya yang ketiga ( sebelum ditambah Agus ), dan 2 absen sebelumnya tidak memiliki "kisah" yang sama. Jadi, ia yang paling pertama. Di kelas X.1, dia banyak membuat "ulah". Dia sangat suka berteriak-teriak di kelas dan bernyanyi bersama Akil, kawannya yang kini telah pindah sekolah. Yang paling parah, dia malah meng"klaim" kalau dirinya menyukai Yessi; gadis yang wajahnya mirip dengan anggota Girlband Jepang yang bernama JKT48... apalah namanya. Meski sebenarnya ia hanya bercanda, namun, yang namanya manusia. Maklum, mereka suka menggosip. Ya. Pada akhirnya iapun menyerah juga pada gosip yang beredar. Kebetulan saat itu Yessi kembali "sendiri"( Dan kebetulan Yessi juga agak cakep dikit sih, hehe ). Salah seorang kawan, yaitu Igi segera menyarankan Taufan agar segera menembak Yessi. Bahkan, kawan wanita; yang bernama Septy pun secara terang-terangan menyarankan agar Taufan segera menembak Yessi. Ya...gapapalah, itung-itung dapet cewek cakep, ya kan?

_ Igi datang. "Pan, gimana? Ageh tembak si Yessi". "Lha, tembak gimana? Orangnya mau kagak?", taufan menjawab. "Emang lu beneran tah suka sama si Yessi?". Taufan diam saja. Nggak mungkin dia ngejilat ludah yang udah ia lepehin sendiri, kecuali itu ludahnya si Yessi ( hiiy~ ). Akhirnya dengan motivasi "itung-itung dapet cewek cakep" dan "sambil menyelam minum air", ia pun mencobanya. Namun rasa malu Taufan dan juga si penulis yang mulai pikun ini menyebabkan ceritanya nggak jelas dikit. Tapi, yang pasti, pada akhirnya Taufan gagal menyatakan "cinta publik" nya. Namun setidaknya ia tidak akan menyakiti Yessi, karena andaikata mereka berhubungan sekarang, niscaya pihak Yessi yang akan sakit hati karena "paksaan oleh publik", bukan?. Namun pada akhirnya, Yessi pun akhirnya berhasil "menjebak" lelaki lain.

_ Beberapa bulan setelah cerita itu lama terlupakan, perilaku Taufan pun sudah agak "terkendali". Memang kalo sama wanita dia bisa berubah gitu ya? Namun, kali ini Taufan melakukan "eksperimen" yang lain. Ia iseng-iseng ( i repeat : ISENG-ISENG ) menawarkan Satipa untuk mengganti "status hubungan" nya bersama Tufan yang kebetulan masih "lajang" menjadi "berpacaran". Hohohoho... dan tentunya jawabannya sudah pasti apa: D-I-T-O-L-A-K. Namun rupanya Satipa cukup pintar untuk menolak Taufan tanpa membuatnya sakit hati, yaitu dengan mengatakan alasan logis kalau dia sudah memiliki "status hubungan" dengan kakaknya, yaitu "tinggal serumah". Tapi itu kan cuman "eksperimen" Taufan. Setiap kegagalan akan ditemui oleh setiap ilmuwan, bukan? Namun, si "Kutu Kecil" Septy kembali mengusik Taufan dengan pertanyaan; "kamu suka Satipa yaaa?". Ya. Kalau anda ga kuat mentalnya pasti anda akan menggampar Septy karena pertanyaan bodohnya ini, 'kan? Untunglah Taufan cukup Sabar mengahadapinya.

_ Ore-wa, belum sampai ulah Taufan di situ, dia kembali dengan melirik kakak kelas ( yang ini sih beneran nge-fans. Udah bahenol, sexy, jangkung, aduh... ngiler lah ). Wehehei, kebetulan pula si Kakak kelas ini juga satu desa dengan si Taufan. Dan iapun mencoba menutupi ulahnya yang lampau dengan membuat ulah yang baru. Namun ini berlangsung sebentar.

_ Dan sebagai penutup di semester 2, taufan melakukannya lagi. Namun kali ini bukan "ulah" atau "eksperimen"-nya yang baru, melainkan ia benar-benar serius. Siapakah ia? Hehehe, sungguh tidak diduga kalau ternyata ia... Septy; S-E-P-T-Y N-U-R-F-A-J-R-I-A-H. Seekor Plankton yang berkali-kali mengetes kesabarannya dan memancing amarahnya. Dan Seekor Protozoa yang berkali-kali menagih uang kas darinya. Namun dengan suasana hatinya saat itu, tentulah di mata taufan, Septy bukan lagi makhluk bersel tunggal yang mengganggunya, melainkan telah menjadi makhluk bersel majemuk (secara konteks, HAHAHAHAHAHAHAHAHA).Dengan kemungkinan terburuk ia menyusun rencana. Dan dengan kemungkinan terburuk ia melakukannya. Good my friend, action is better than some words! Ia siap, dengan segala konsekwensinya.

_ 16 Mei, pukul 11.45, Jalan Raya Kanci. Di sana ia melakukannya.Ia bertiga, berjajar bersama Septy dan Nia, berjalan. Namun karena tidak kunjung ada mobil Elef ( angkutan umum sejenis minibus ) yang datang, merekapun berbalik arah. Saat itu ia mengatakannya. Masih terdengar jelas saat itu ditelinga saya: "Septy, sebenarnya yang saya suka dan ingin saya tembak itu bukanlah Satipa ataupun Yessi, tapi..."___ "Septy!!!", Nia memotong. Menyebalkan sekali kan kalau digangguin kayak gitu? Mpet rasanya, yakin. Akhirnya Septy menjawab "Terus?". Kata "terus" itu tentunya memiliki makna yang dalam. Apakah Taufan harus melanjutkannya, atau mundur? Jika saya jadi Taufan maka saya akan lebih memilih untuk "mundur". Taufan segera berlari melompat ke dalam bis kota yang sedang memutar.
_ Jawaban yang diluar perkiraan itu juga memiliki pertanyaan yang sama dalam pikiran Taufan. Kenapa pula ia harus terlalu memikirkannya? Perempuan yang telah mencerca apa yang dilakukan Taufan pada Yessi dan Satipa. Bukankah harusnya ia membencinya? Memang, terkadang hati bisa berkata lain.

_ 22 Mei, pukul 12.20, dalam bis kota. Taufan akhirnya menuntaskan apa yang harus ia lakukan. Siapa yang menanam, dialah yang harus memanen. Akhirnya taufan berhasil mengatakannya. Soal "apa yang dikatakannya" itu sudah jelaslah, dan jawabannya pun sudah pasti.Namun, Septy rupanya tidak memiliki "kemampuan" yang dimiliki Satipa dalam menolak seseorang. Siapapun yang mengalami pengalaman yang sama dengannya pasti akan mengumpat2 dan gantung diri. Dengan ekspresi yang -kejam--menurut saya- dia menganggap remeh perkataan Taufan. Bahkan jawabannyapun disampaikan lewat Farkha, salah seorang kawannya yang bertubuh gempal dan berkacamata.
_ Hhh, memang, Septy sudah berkali2 menyakiti perasaan "hero" kita yg satu ini, tapi, dengan "semangat Naruto-dattebayo!!!"nya yang kuat ia masih tetap bertahan untuk tetap tersenyum pada sang mentari. Septy-pun kini sudah 'berbahagia' dengan pasangan barunya. Nah lho, bagaimana bisa? Hanya Tuhan yang tahu. Yang pasti, Taufan telah selamat dari "gangguan organisme patogen bersel tunggal". Bagaimana bisa? Sekali lagi saya katakan bahwa hanya Tuhan yang tahu...

_ Kisah yang kedua adalah ini, kisah antara Nia dan Deny. Bagaimana Deny tadi kita sudah kita jelaskan, dan Niapun sudah muncul diawal cerita. Nia ini mukanya khas guru TK, atau guru SD. Yang penting guru lah. Nah, kalau cerita yang ini, konon dimulai waktu LDK ( kepanjangan apa itu ya? ). Namun, karena waktu LDK kuku jempol saya ketiban ember cucian dan bengkak selama 2 bulan, saya nggak tau jalan ceritanya.Namun, Nia dan Deny ini selalu bersama, layaknya orang pacaran ( lha, emang gitu kan? ). Dan seperti kata orang "jika seorang lelaki dan seorang perempuan berduaan, maka yang ketiganya adalah setan". Nah, setannya itu adalah Taufan. Dia selalu saja punya kesempatan untuk mengganggu kedua "sejoli" kita ini.

_ Nah, kisah cinta mereka ini tadinya langgeng-langgeng saja hingga akhirnya muncul kabar kalau -mantannya Deny- mengganggu Nia. Nia tentu merasa risih dengan hal ini. Gosip menyanter dimana-mana. Dan sama seperti ketika saya tidak tahu kalau Deny sudah jadian dengan si Nia, saya juga tidak tahu kalau Deny sudah putus dengan si Nia. Sepanjang hari dan sepanjang pagi, saya cuma mendengar keluh kesah dan omelannya yang disandarkan pada Farkha dan Septy. Juga pada gadis-gadis dikelas. Bad hair day adalah tema yang selalu saya nikmati tiap pagi, ketika Nia mengomel. Saya tentu "nggak kieng" ngurusin yang satu ini. Saya nggak tau yang mana yang benar dan yang mana yang salah. Perkataan mereka cuma come in at one ear and go out the other, karena saya tidak mau ketiban dosa menggosip, namun karena satu kelas, mau nggak mau kedengaran juga.
_ Nia juga pernah cerita pada saya, tapi saya nggak bakal ngasih tau apa yang dia ceritakan. Tapi, kalau tentang dia penggemar Spiderman, ya, nggak bisa saya rahasiakan. Saya kan juga suka komik.

_ Nah, ada juga nih, cerita lucu. Ceritanya tentang Syukron dan Evrida. Kalau tentang cerita ini sih, kita sudah tahu kalau mereka cuma bercanda. Tapi karena sudah jadi guyonan khas X.1, akhirnya cerita lucu ini memang benar2 pantas diceritakan.
_ Jadi, si Syukron ini sebenarnya ga ada masalah sama siapa-siapa, hingga Evrida secara tiba-tiba mengatakan "Syukron, i love you!". Sontak anak-anak sekelas pada tertawa dan segera disambung dengan "cie-cie" yang menggema. Setali dua tali, Evrida melakukan hal ini pada Syukron berkali-kali. Evrida memperlakukan Syukron seperti "cowoknya" sendiri. Dia sering minta uang ke Syukron, minta ditraktir Syukron, pulang bareng Syukron, ngegombalin Syukron, bahkan ketika Igi membawa hamster-pun, Evrida merengek pada Syukron meminta hamster. Dan Syukron menjawab "ntar tak beliin tikus got", jawaban yang hingga sekarang masih bisa membuat saya ngakak terpingkal-pingkal.

_ Begitulah setidaknya beberapa kisah yang bisa saya ceritakan dari kelas X.1.
Memang, kini anak2 dari kelas X.1 sudah berpisah pada jalannya masing2. Ada yang masuk IPS ( Ilmu Pengetahuan Shinigami ) dan ada yang masuk ke IPA ( Ilmu pengetahuan Arrancar ).Terlepas dari takdir seperti apa yang sudah disiratkan pada mereka. Ini barangkali merupakan pelajaran bagi mereka, pelajaran yang yang tidak termasuk dalam materi, namun sebenarnya inilah pelajaran yang paling penting; pelajaran mencari jati diri...

_ Saya ingatkan sekali lagi kalau kisah ini bukan untuk "membela" atau "menyinggung" suatu pihak dalam cerita. Karena itu saya tegaskan sekali lagi dan bagi pihak yang merasa tersinggung, mohon anggap ini sebagai "kenangan pahit-manis" karena tak ada maksud buruk dalam penulisannya...
_ Akhir kata saya ucapkan "Di dunia ini tak ada yang sempurna". Kata-kata itu mungkin sudah basi, tapi, itu fakta. Orang-orang biasa memuja kesempurnaan dan menginginkannya. Namun, apa arti kesempuranaan? Tak ada, tak ada, tak ada satupun. Tak ada yang melebihi kesempurnaan. Di dalam kesempurnaan tak ada ruang untuk 'kreativitas', jadi, tak ada celah untuk bisa dimasuki oleh 'kebijaksanaan' dan 'bakat'. Bagi kami para pengarang, 'kesempurnaan' adalah 'keputusasaan'. Itu memang lebih hebat dari karya yang dulu ada, hingga sekarang, namun, pasti tidak sempurna. Pengarang adalah mahluk yang harus menderita karena kedua hal yang berlawanan tersebut, namun juga harus bisa menemukan kesenangan dari keduanya. Jadi, begitu anda mengucapkan kata-kata konyol bernama 'kesempurnaan', kau telah kalah dariku. Itupun, jika kau menganggap dirimu Pengarang. Jadi, Saya mohon maaf jika dalam penulisannya memiliki banyak kekurangan-kekurangan, jadi, mohon kritik dan sarannya agar saya bisa menulis dengan baik. Terima kasih telah membaca, Wassalamuaikum warahmatullahi wabarakatuh...

Sumedang, 12 Oktober 2006
MAYURI KUROTSUCHI ( AHMAD TAUFAN )